Kamis, 24 Juli 2008

Keluarga Sehat dengan Makanan Gizi Seimbang

Keadaan gizi atau status gizi sebagai hasil dari konsumsi makanan akan terlihat dalam jangka waktu cukup lama. Keadaan gizi tersebut dapat berupa gizi kurang, gizi baik atau normal, maupun gizi lebih. Oleh karena itu, untuk mencapai kondisi yang normal dengan berperilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan, sikap dan praktek mengkonsumsi makanan seimbang dan berperilaku hidup sehat.

Makanan gizi seimbang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral.
Karbohidrat dan lemak berguna sebagai penghasil energi/tenaga. Contoh bahan makanan yang mengandung karbohidrat adalah beras, jagung, singkong, roti, sukun dn gula murni. Sedangkan contoh bahan makanan yang mengandung lemak adalah daging berlemak, margarin, minyak goreng, jeroan dan lain-lain. Protein berguna untuk pertumbuhan/pemeliharaan. Contoh bahan makanan yang mengandung protein adalah berdasarkan sumber protein hewani yaitu daging, ikan, ayam, hati, telur, susu dan hasil olahannya. Dan berdasarkan sumber protein nabati yaitu kacang-kacangan, tempe, tahu dan lain-lain. Vitamin dan mineral berguna untuk pengatur. Contoh bahan makanan sumber vitamin dan mineral adalah sayuran dan buah-buahan.

Penyediaan makanan dengan gizi seimbang biasanya dimasak dahulu sebelum dimakan. Yang dimakan dalam bentuk mentah ialah buah-buahan dan kadang-kadang sayuran yang dimakan sebagai lalapan. Bahan makanan ada yang diperoleh dalam keadaan segar dari penjual sehingga dapat langsung dimasak dan kemudian dihidangkan, namun ada pula bahan makanan yang harus melalui beberapa cara pengolahan tertentu sebelum dapat dimasak misalnya beras. Tindakan-tindakan seperti menggiling, menyimpan, mengangkut, mencuci dan memasak dapat menimbulkan kerugian karena zat-zat gizi dalam makanan dapat rusak/terbuang dari bahan makanan itu. Sebagai contoh akan diambil pengaruh memasak terhadap tiga golongan bahan makanan yang paling penting dan dikenal oleh keluarga di Indonesia, yaitu :

1. Memasak beras
Beras adalah salah satu sumber thiamin yng utama, karena dimakan dalam jumlah yang relatif banyak dalam menu sehari-hari. Thiamin sangat mudah larut dalam air dan thiamin juga termasuk vitamin yang mudah rusak karena suhu tinggi, dengan demikian derajat kehilangan thiamin dan vitamin-vitamin lain yang larut dalam air bergantung pada cara pencucian dan jumlah air yang dipakai untuk mencuci sehingga pencucian beras sebelum dimasak sebetulnya merupakan suatu tindakan merugikan dan memasak dengan cara ”meliwet” ialah cara yang paling baik supaya zat makanan tidak terlarut dalam air.

2. Memasak sayuran
Sayuran yang telah dimasak berkurang kadar zat makanannya, karena pengaruh berbagai faktor selama memasak, ialah :
a. Bila jumlah air perebus yang dipakai terlalu banyak,
b. Bila air perebus ini dibuang setelah dipakai dan tidak terus digunakan sebagai bagian dari masakan,
c. Bila sayuran yang akan direbus dipotong-potong dalam ukuran yang kecil-kecil,
d. Bila air perebus tidak dibiarkan mendidih dahulu sebelum sayuran dimasukkan ke dalamnya,
e. Bila pada waktu merebus, panci dibiarkan terbuka, dan
f. Bila dipergunakan panci atau alat lainnya yang terbuat dari logam dan dapat mengkatalisa proses oksidasi terhadap vitamin (merusak zat-zat gizi yang terkandung di dalam sayuran).
Sehingga memasak dengan cara ”ditumis” dianjurkan karena sayuran yang dimasak dalam sedikit lemak dapat meningkatkan suhu lemak sehingga lemak dapat melindungi berbagai vitamin yang mudah rusak oleh suhu memasak.

3. Memasak daging
Daging dapat dimasak dengan menggoreng, merebus atau dipanggang. Pada umumnya memasak daging tidak menurunkan nilai gizi bahkan dapat meningkatkan sifat protein. Selain itu terjadi penyusutan volume air dalam jaringan daging dimana hal itu tidak perlu dikhawatirkan.




Tidak ada komentar: